Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Inilah 2 Sosok Presiden Indonesia Yang Terlupakan

Semua mengatakan bahwa Joko Widodo adalah Presiden Indonesia ke-7, itu tidaklah salah karena memang secara resmi Presiden yang syah berdasarkan Undang-Undang Negara memang baru 7 tujuh orang. Tetapi jika kita kembali melihat sejarah bangsa Indonesia di masa awal Kemerdekaan, sebenarnya Presiden Indonesia sampai sekarang ini sudah 10 orang yang menjabat.

Tidak dapat dipungkiri jika masyarakat Indonesia pada umumnya hanya mengenal sosok presidennya yaitu Soekarno, Soeharto, Baharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden Republik Indonesia. Padahl ada dua sosok presiden Indonesia yang jasanya sangat besar bagi bangsa ini selain ke tujuh presiden tersebut. Dua sosok ini seakan dilupakan dan tidak banyak masyarakat yang mengetahuinya.

Jika melihat Indonesia dalam perjalanannya dimasa awal kemerdekaan, sejarah bangsa ini mencatat dua nama lain yang pernah menjabat sebagai presiden, dua nama tersebut yaitu Syafriddin Prawiranegara dan Mr. Assat. Sipakah dua sosok presiden ini yang namanya seakan terlupakan oleh masyarakat kita? Simak ulasan berikut ini.

Syafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat adalah sosok Presiden Indonesia yang terlupakan

1. Syafruddin Prawiranegara

Syafruddin Prtawiranegara adalah sosok orang yang banyak jasanya bagi Negara ini. Ia adalah Presiden Indonesia yang terlupakan dan bahkan tidak dikenal oleh masyarakatnya. Ini berbeda dengan presiden yang lain yng namanya sangat populer, tokoh satu atau kalau boleh saya bilang pahlawan kemerdekaan ini nama dan jasanya tidak banyak diketahui masyarakat Indonesia. Padahal secara jelas sejarah membuktikan jika jasanya mendirikan Indonesia sebagai negara berdaulat sangatlah besar.

Syafruddin Prawiranegara adalah salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia yang pernah ditugaskan oleh Presiden Soekarno dan Moh. Hatta untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Dimasa itu pihak Belanda sedang melakukan agresi militer kedua pada tahun 1948. Agresi ini bertujuan untuk merebut kekuasaan kembali dari tangan Indonesia yang baru saja memploklamirkan Kemerdekanya. Para tentara Belanda terus-terusan membombardir Yogyakarta dan Bukit tinggi, mereka ahirnya berhasil menangkap Ir. Soekarno yang kala itu sudah menjabat sebagi Presdien Indonesia dan juga menangkap Wakil Presiden Moh. Hatta pada Agresi Militer Belanda ke-II ini, mereka kemudian diasingkan oleh Belanda ke Pulau Bangka.

Mohammad Hatta yang sebelumnya telah menduga jika Presiden Soekarno dan dirinya bakal ditahan Belanda, waktu itu beliau segera memberi mandat kepada pria kelahiran 28 Februari 1911 , di Serang - Banten tersebut untuk melanjutkan pemerintahan RI, langkah dan keputusan itu diambilnya agar tidak terjadi kekosongan kekuasaan di Pemerintahan. Tongkat estafet kepemimpinan Negara kemudian diserahkan oleh Bung Karno kepada Syafruddin Prawiranegara lewat mandat yang sebenarnya tidak pernah diterimanya. Setelah mendengar berita tersebut, Syafruddin yang memang sedang berada di Bukit Tinggi langsung berinisiatif mengambil alih kepemimpinan negara. Dan tepat pada tanggal 19 Desember 1948, Syafruddin bersama TM Hasan, yaitu Gubernur Sumatera pada waktu itu, kemudian memutuskan untuk membentuk pemerintahan darurat. Inisiatif ini sendiri diambil demi untuk menyelamatkan Republik Indonesia dari Belanda yang pada saat itu memang dalam kondisi bahaya karena agresi Militer Belanda ke-II.

Karen inisiatif pembentukan Pemerintahan Darurat ini, Belanda yang tak mengira sebelumnya ahirnya dibuat frustasi dan terpaksa berunding dengan Indonesia. Dan setelah delapan bulan berselang yakni pada tanggal 13 Juli 1949, diadakanlah sidang antara PDRI dengan Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta, serta sejumlah menteri kedua kabinet. Pungkasnya yaitu pada Perjanjian Roem-Royen, yang mengakhiri upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Dan akhirnya Belanda membebskan ir.Soekarno dan kawan-kawan untuk kembali ke Yogyakarta. Sekembalinya Soekarno dkk. Ini ahirnya dilakukan serah terima pengembalian mandat dari PDRI, dan secara resmi dilakukan di Jakarta pada tanggal 14 Juli 1949.

2. Mr. Assaat

Sosok yang pernah menduduki kursi Presiden Indonesia yang terlupakan selain Syafruddin Prawiranegara yaitu Mr. Assaat. Beliau adalah pria kelahiran Sumatera Barat pada 18 September 1904. Assaat memimpin Republik Indonesia yaitu selama 9 bulan tepatnya pada 27 Desember 1949 - 15 Agustus 1950. Ini terjadi disaat setelah KMB. Dimana pada saat itu setelah terjadi perjanjian pada Konferensi Meja Bundar (KMB) yaitu 27 Desember 1949, Mr. Assaat diamanatkan untuk menjadi Acting (Pelaksana Tugas) Presiden Republik Indonesia di Yogyakarta hingga sampai 15 Agustus 1950. 

Dengan terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS), jabatan Assaat sebagai Pejabat Presiden RI pada Agustus 1950 selesai, demikian juga jabatan dia selaku ketua KNIP dan Badan Pekerjanya juga ikut berahir.

Ini terjadi dikarenakan pada bulan Agustus tahun 1950, negara-negara bagian RIS (Republik Indonesia Serikat) melebur diri kedalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Disaat menjadi Plt. Presiden RI, Mr.Assaat menandatangani statuta pendirian Universitas Gadjah Mada yang berlokasi di Yogyakarta.

Perjalanan Assaat kemudian berlanjut ke Jakarta. Dimana setelah beliau pindah ke Jakarta, Assaat menjadi anggota parlemen (DPR-RI) hingga berhasil duduk dalam Kabinet Natsir menjadi Menteri Dalam Negeri kurang lebih selama satu tahun yaitu pada September 1950 sampai Maret 1951. Dan setelah Kabinetnya Natsir bubar, Assaat kembali menjadi anggota Parlemen.

Selanjutnya sosok Assaat selalu menjadi actor penting dalam kancah perpolitikan negeri. Terbukti pada tahun 1955, beliau bisa menjabat sebagai formatur Kabinet bersama dengan Soekiman Wirjosandjojo dan Wilopo guna mencalonkan Moh.Hatta sebagai Perdana Menteri kala itu. Karena memang saat itu sedang terjadi ketidak puasan daerah terhadap beleid (kebijakan) pemerintahan Pusat. Memang daerah-daerah banyak mendukung Bung Hatta, namun upaya tiga formatur itu menemui kegagalan, karena memang secara formal telah ditolak oleh Parlemen. 

Itulah dua sosok presiden Indonesia yang terlupakan dan belum banyak orang yang tahu tentangnya. Artikel ini juanesia bagikan untuk membantu agar masyarakat kembali mengingat sejarah bangsa ini dan mengenal dua sosok pahlawan yang terlupakan tersebut padahal jasanya untuk Indonesia sangat besar.

Sumber : http://news.okezone.com/read/2017/10/09/337/1791950/Belum-Banyak-yang-Tahu-Ini-Dia-Dua-Presiden-Indonesia-yang-Terlupakan
Jabad
Jabad Orang biasa dengan cita-cita tidak biasa, yang mencitai dan menghargai sejarah bangsanya.