Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Masuknya Islam Di Suku Sasak Lombok

Sasak merupakan nama suku yang ada di Lombok dan sampai saat ini masih menjadi suku terbesar yang mendiami Lombok. Suku sasak masih memegang budayanya yang diwarisi secara turun-temurun kendati saat ini sebagian besar sudah memeluk agama Islam. Bahasa sehari-hari yang dipakai Orang Sasak yaitu Bahasa Sasak.

Mengenai arti Sasak sendiri yaitu satu-satu, kata ini berasal dari kata “sak-sak”, yang berarti satu satu. Sementara kata “sak” ini deiketahui juga dipakai oleh sebagian dari suku Dayak berada di Kalimantan untuk menyebut makna satu. Kehebatan dari orang Sasak ini salah satunya yaitu terkenal begitu pintar menenun kain, bahkan dahulu ada kebiasaan unik yaitu setiap perempuan Sasak akan dikatakan sudah dewasa dan siap untuk berumah tangga apabila dia sudah pandai menenun kain untuk dijadikan pakaian. Kata menenun sendiri dalam Bahasa Sasak disebut dengan sesek, berasal dari kata sesak, sesek, atau saksak.

Kepercayaan Ali Orang Sasak Sebelum Masuknya Islam


Sebuah cerita menarik akan kami sajikan kali ini terkait dengan Orang Sasak di Lombok. Sejarah mencatat bahwa sebelum kedatangan pengaruh asing di Lombok, Boda merupakan kepercayaan asli orang Sasak. Dan mereka (orang Sasak) yang menganut kepercayaan ini disebut juga dengan Sasak Boda. 

Kepercayaan Boda yang dianut oleh orang sasak ini berbeda dengan Budhisme karena ia tidak mengakui Sidarta Gautama atau Sang Budha sebagai figur utama pemujaanya maupun terhadap ajaran pencerahannya. Agama Boda dari orang Sasak asli terutama ditandai oleh animisme dan panteisme. Pemujaan dan penyembahan roh-roh leluhur dan berbagai dewa local lainya merupakan focus utama dari praktek keagamaan Sasak-Boda.

Gambar kegiatan pesta budaya suku Sasak asli Lombok

Masuknya Pengaruh Luar ke Suku Sasak

Konversi orang Sasak kedalam Islam sangat berkaitan erat dengan kenyataan adanya penaklukan dari kekuatan luar. Berbagai kekuatan asing yang menaklukkan Lombok selama berabad-abad, sangat menentukan cara orang Sasak menyerap pengaruh – pengaruh luar tersebut.

Orang Jawa, Makasar, Bugis, Bali, Belanda, dan Jepang berhasil menguasai Lombok lebih kurang satu millennium. 

Masuknya Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Islam ke Sasak


Kerajaan Hindu-Majapahit dari Jawa Timur, masuk ke Lombok pada abad ke-7 dan memperkenalkan Hindu-Budhisme ke kalangan orang Sasak. Setelah dinasti Majapahit jatuh, agama Islam dibawa untuk pertama kalinya oleh para raja Jawa Muslim pada abad ke-13 ke kalangan orang Sasak Lombok dari Barat Laut. Islam segera menyatu dengan ajaran sufisme Jawa yang penuh mistikisme. 

Kerajaan islam Makasar

Orang-orang Makasar tiba di Lombok Timur pada abad ke-16 dan berhasil menguasai Selaparang, kerajaan orang Sasak asli. Dibandingkan dengan orang Jawa, orang Makasar lebih berhasil dalam mendakwahkan Islam Sunni. Mereka berhasil mengkonversikan hampir seluruh orang Sasak ke dalam Islam, meskipun kebanyakan mereka masih mencampurkan Islam dengan kepercayaan lokal yang non-Islami. 

Masuknya Kerajaan Bali


Kerajaan Bali dari Karangasem menduduki daerah Lombok Barat sekitar abad ke-17, dan kemudian mengkonsolidasikan kekuasaanya terhadap seluruh Lombok setelah mengalahkan kerajaan Makasar pada tahun 1740. Pemerintahan Bali memperlihatkan kearifan dan toleransi yang besar terhadap orang Sasak dengan membiarkan mereka mengikuti agama mereka sendiri. Kendati demikian dibawah pemerintahan Kerajaan Bali yang pagam, kalangan bangsawan Sasak yang telah terislamisasi dan para pemimpin lainya, seperti Tuan Guru, merasa tertekan dan bergabung Bersama-sama untuk melakukan pemberontakan kecil melawan Bali, kendati tidak berhasil. 

Masuknya Belanda ke Lombok


Kekalahan yang dialami oleh para bangsawan atas pemberontakan yang dilakukannya,  mendorong beberapa bangsawan Sasak meminta campur tangan militer Belanda untuk mengusir kerajaan Bali. Permintaan mereka itu memberi peluang Belanda untuk masuk ke Lombok untuk memerangi dinasti Bali. Ketika akhirnya Belanda berhasil menaklukkan dan mengusir Bali dari Lombok, alih-alih mengembalikan kekuasaan bangsawan Sasak terhadap Lombok, mereka justru menjadi penjajah baru terhadap Sasak. Belanda banyak mengambil tanah yang sebelumnya dikuasasi oleh pemerintahan Kerajaan Bali, dan memberlakukan pajak tanah yang tinggi terhadap penduduk (Kraan 1976).

Dibawah Belanda, Sasak mengalami control dan penindasan yang lebih keji daripada penguasa-penguasa sebelumnya. 

Para pemimpin Islam, Tuan Guru, yang sebelum kedatangan belanda telah melakukan dakwah untuk mensiarkan ajaran-ajaran Islam ortodoks di kalangan Wetu Telu, akhirnya menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan ideologis untuk melawan penjajah Belanda. Gerakan pemberontakan yang dipimpin oleh para tuan guru memperoleh pengikut yang meningkat, dan lambat laut mengurangi pengaruh bangsawan Sasak yang sebagian besar mendasarkan otoritas mereka dari warisan tradisi lokal. 

Selama era kolonisasi Belanda, gerakan dakwah pimpinan Tuan Guru makin meningkatkan polarisasi antara Wetu Telu dan Waktu Lima. Jika kelompok pertama memberikan loyalitas mereka kepada para bangsawan Sasak sebagai pemimpin tradisional dan terus memuja adat lokal, kelompok kedua mengikuti Tuan Guru sebagai pemimpin keagamaan kharismatik mereka.

Masuknya Bangsa Jepang ke Lombok


Jepang menggantikan Belanda di Lombok untuk suatu periode yang singkat antara tahun 1942 dan 1945. Sesudah itu, selama perang kemerdekaan Indonesia, Belanda berusaha untuk menguasai kembali Lombok dan pulau-pulau Indonesia lainya, tetapi tidak berhasil. Lombok merdeka pada tahun 1946 sebagai bagian dari Indonesia dan sesudah itu pada tahun 1950 Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid yang juga pemimpin nasionalis mendirikan pesantrennya, Nahdlatul Wathan, yang sekarang merupakan salah satu pesantren tertua di Lombok.

Pendidikan Islam Sebagai Cikal Bakal Pendidikan Formal di Lombok


Pengaruh Tuan Guru telah tertanam jauh sebelum kolonisasi Belanda, khususnya dari orang-orang yang kembali dari menunaikan ibadah haji dan belajar di Makkah. Diperkenalkanya pelayaran kapal uap oleh Belanda memungkinkan kalangan Muslim Indonesia termasuk mereka yang berasal dari Lombok, untuk menunaikan ibadah haji di tahun-tahun awal abad ke-19. Kebanyakan para jamaah haji ini tidak langsung kembali ke Lombok, tetapi bermukim dulu selama beberapa tahun untuk belajar Islam di Mekah. Di sana mereka menyerap ajaran-ajaran dan praktek-praktek Islam ortodoks, dan ketika mereka ahirnya pulang ke Lombok, mereka mengajarkan Islam ini ke penduduk lokal. 

Kharisma dan dan status Tuan Guru makin berkembang seiring meningkatnya jumlah santri yang mulai mengikuti pengajian. Hal demikian berlangsung ketika rumah Tuan Guru tidak bisa lagi menampung jumlah pengikutnya yang bertambah, ia kemudian mendirikan pondok pesantren dan menjalankan semua kegiatan pengajarannya disana. Secara perlahan pondok pesantren mengorganisir sekolah-sekolah pengajaran formal yang dilengkapi dengan ruang-ruang kelas, asrama-asrama mahasiswa, dan kurikulum yang meliputi mata pelajaran umum maupun pengajaran agama. Pesantren menarik siswa dari dalam maupun luar Lombok, beberapa dari mereka tinggal (mondok) sementara di pesantren sambal belajar. Setelah mereka menuntaskan pendidikannya, para siswa tersebut biasanya terjun dalam kegiatan dakwah, mengajarkan Islam di kampung halaman mereka. 

Demikianlah alumni pesantren menjadi unsur penting dalam menyebarkan dan menyiarkan ajaran Ortodoks Tuan Gurunya ke daerah-daerah Lombok lainya.

Terpinggirkanya Ajaran Wektu Telu Oleh Ajaran Waktu Lima

Perkembangan pengaruh Tuan Guru diikuti oleh merosotnya status bangsawan. Banyak bangsawan wektu telu akhirnya juga pindah ke Waktu Lima. Hanya beberapa dari mereka yang tetap mempertahankan status mereka di dalam Kawasan yang terbatas. 

Penetrasi ajaran Ortodoks Tuan Guru yang cepat berhasil memudarkan dan akhirnya pengaruh dari sistem tradisional Wektu Telu di hampir semua Kawasan Lombok kian menipis, kecuali di Tanjung dan Bayan. Wetu Telu yang masih ada ini, kian terpencil dan komunitas Sasak yang lebih besar, dan dianggap ketinggalan zaman (Old fashioned).

Itulah sejarah singkat tentang Islam Sasak dan masuknya pengaruh asing kedalam suku Sasak yang ada di Lombok. Tulisan ini diambil dari buku karangan Dr. Erni Budiwanti berjudul “Islam Sasak”`

Dan dengan dipublishkannya postingan tentang Sejarah Isalm di Suku Sasak ini dapat memberikan tambahan pengetahuan untuk banyak orang. 
Jabad
Jabad Orang biasa dengan cita-cita tidak biasa, yang mencitai dan menghargai sejarah bangsanya.