Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Gunung Krakatau Yang Menghebohkan Dunia, Fakta Atau Mitos?

JUANESIA.INFO - Gunung Krakatau yang berada di Selat Sunda  ini memang menyimpan banyak misteri sejarah hingga kini. Banyak versi sejarah yang ada dan sampai sekarang masih dilakukan pengkajian tentang kebenaran sejarah gunung berapi yang terbilang paling aktif di dunia ini. Banyak kalangan yang bilang bahwa Gunung Krakatau inilah yang menyebabkan terpisahnya antara pulau Jawa dan Sumatera yang awalnya jadi satu. Akibat letusanya terbentuklah selat Sunda yang memisahkan sumatera dan Jawa dan juga membentuk gunung berapi baru yaitu disebut anak gunung Krakatau.

Baru baru ini tepatnya tanggal 22 Desember Anak Gunung Krakatau mengalami Erupsi lagi, erupsi ini menyebabkan amblesnya sebagian tubuh anak gunung Krakatau tersebut yang mengakibatkan terjadinya Tsunami di selat Sunda yaitu bagian pesisir Banten dan Lampung. Akibat Tsunami ini membuat ratusan orang menjadi korban baik luka-luka ataupun meninggal, dan sebagian masih belum ditemukan.

Induk gunung Krakatau di selat Sunda

Sejarah Letusan Gunung Krakatau Terdahsyat dizaman Modern

Sejarah Dunia mencatat bahwa Gunung Krakatau merupakan satu-satunya Gunung berapi yang pernah membuat letusn terbesar di dunia dan membuat dunia gelap selama berbulan-bulan. Akibat tetusan ini juga memunculkan gunung berapi baru yang disebut dengan Anak Gunung Krakatau. Anak gunung ini bahkan lebih berbahaya dari sang induknya.

Nama Krakatau sendiri merupakan sebutan untuk kepulauan vulkanik yang masih sangat aktif , kepulauan ini berada di Selat Sunda yaitu diujung barat pulau jawa dan ujung timur sumatera, selat ini saat ini sebagai pemisah antara pulau Jawa dan pulau Sumatera dan sekarng masuk dalam salah satu kawasan cagar alam di Indonesia. 

Di kawasan ini terdapat sebuh gunung berapi yang masih aktif dan disebut juga Gunung Krakatau. Gunung ahirnya ini sirna akibt letusannya sendri yang sangat besar dn terjadi pada 26 – 27/08/1883. Letusannya begitu dahsyat dan membuat awan panas dan juga tsunami besar serta banyak memakn korban jiwa hingga 36.000 (tiga puluh enam ribu) meinggal. Tsunami akibat letusan Gunung Krakatau 1883 ini sebelum 26 Desember 2004 menjadi yg terdahsyat yang ada di kawasan Samudera Hindia. Bahkan suara letusannya terdengar sampai 4.653 km jaraknya, di wilayah Alice Springs, Australia dan jug Pulau Rodrigues dekat Afrika suara letusan Gunung Krakatau begitu bergemuruh. Menurut perhitungan daya yang ditimbulkan akibat ledaknya tersebut diperkirakan mencapai 30.000 kali dari bom atom Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada akhir Perang Dunia II oleh tentara sekutu.

Gambar ilustrasi Letusan gunung krakatau tahun 1883

Letusan tersebut juga menyebabkan terjadinya perubahan iklim dunia (global). Karen akibat debu vulkanis yang dikeluarkanya mengakibatkan tertutupnya atmosfer Bumi sehingga seluruh dunia sempat dibikin gelap kurang lebih selama dua hari setengah. Tidak hanya itu mataharipun dibuat bersinar redup sampai setahun lamanya. Debu vulkanis berhambur tampak di langit Norwegia hingga New York, Amerika Serikat.

Sebenarnya ledakan Krakatau ini masih kalah dengan ledakan yang ditimbulkan karena letusan Gunung Toba dan juga Tambora, tetapi saat itu populasi manusia masihlah belum sepadat tahun 1883. Sedangkan saat Gunung Krakatau meletus 1883 lalu, populasi umat manusia sudahlah padat, ilmu pengetahuan (sains dan teknologi) juga telah berkembang, bahkan telegraph sudah ditemukan, juga kabel bawah lautpun sudah dipasang. Perkembangan teknologi informasi dimasa itu sudahlah maju dan modern. Mak dapat dikatakan bahwa letusan Gunung Krakatau adalah yang terbesar sejak ditemukannya telegraf bawah laut.

Namun sayngnya kemajuan teknologi tersebut belum diimbangi  kemajuan dibidang geologi. Sehingga letusan Krakakatu belum dapat dijelaskan secara rinci oleh para ahli geologi saat itu.

Sejarah Tentang Gunung Krakatau Purba

Para ahli memperkirakan bahwa zaman purba ada gunung yang lebih besar sebagai induk dri Gunung Krakatau yang meletus pada tahun 1883. Gunung tersebut tersusun dari bebatuan andesitik , dan inilah yang disebut sebagai Gunung Krakatau Purba.

Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat gunung yang sangat besar di Selat Sunda yang akhirnya meletus dahsyat yang menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau Purba, yang merupakan induk dari Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini disusun dari bebatuan andesitik.

Pernyataan ini diperkuat oleh catatan yang ada pada teks Jawa Kuno berjudul Pustaka Raja Parwa. Teks ini diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Dalam catatan tersebut isinya memuat tentang beberapa hal antara lain:

gambar induk krakatau purba

Suara dan Goncangan, badai dan banjir besar, dunia gelap gulita:
"Dijelaskan yaitu “ada suara guntur yang sangat menggelegar dan berasal dr Gunung Batuwara. Ada juga goncangan bumi yang sangat menakutkan, timbulkan kegelapan total, suara petir dan kilat. Lalu datanglah badai angin dan juga hujan begitu mengerikan, seluruh badai itu menggelapkan seluruh dunia. Datang banjir besar dari Gunung Batuwara dan terus mengalir ke timur menuju Gunung Kamula. Seketika airpun menenggelamkannya, sehingga pulau Jawa terpisah menjadi dua, dan membuat pulau baru yaitu Sumatera".

Seorang Pakar ahli dibidang ilmu geologi “Berend George Escher” dan juga beberapa ahli geologi lainnya menyatakan pendapatnya tentang gunung Krakatau purba ini. Bahwa kejadian alam yang diceritakan dalam isi teks jawa kuno tersebut yang disebut dengan Gunung Batuwara merupakan Gunung Krakatau Purba. Dalam buku Pustaka Raja Parwa juga disebut bahwa tinggi Krakatau Purba mencapai 2.000 9dua ribu) meterlebih di atas permukaan laut, dan untuk lingkar pantainya disebut mencapai lebih dari 11 kilometer panjangnya.

Gambar ilustrsi erupsi gunung Krakatau zaman purba

Letusan Krakatau Purba tersebut membuat tiga perempat tubuhnya hancur dan menyisakan sebuah kaldera atau kawah besar di Selat Sunda. Dan untuk bagian sisi-sisi atau tepi kawahnya ini dikenal sebagai Pulau Sertung, Rakata, dan Pulau Panjang. 

Atau pada catatan lain disebut juga sebagai Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Rakata Kecil. Akibat letusan gunung Batuwara (gunung Krakatau Purba) ini juga disinyalir bertanggung jawab atas terjadinya masa abad kegelapan yang ada di muka bumi. dan secara signifikan mengakibatkan berkurangnya jumlah penduduk di muka bumi akibat penyakit yang muncul dimasa itu.
Beberapa kalangan juga menganggap bahwa letusan krakatau purba turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.

Anak Gunung Krakatau Yang Unik Dan Menyeramkan

Cerita mengerikan tentang Krakatau Purba dan Induk Gunung Krakatau memanglah menjadi masalalu, namun akibt letusannya tersebut memunculkan Anak Gunung Krakatau kecil yang justru lebih membahayakan dari induknya. Ini karena gunung kecil ini terus tumbuh dan tumbuh besar dan tinggi, data menyebutkn setiap bulannya tingginya tumbuh 0,5 meter atau 20 inci. Jika dihitung maka tiap tahun gunung ini tingginya bertambah sekitar 6 meter (20 kaki) dan juga tumbuh lebih lebar sekitar 12 meter (40 kaki). Ini jelas menjadi misteri dan PR bagi para ahli gelogi untuk melkukan pemantauan dan penelitian demi kebaikan umat manusia dimuka bumi.

Gambar anak gunung krakatau sedang erupsi

Secara ilmiah dikatakn bahwa penyebab terus bertambahnya tinggi dan lebarnya anak gunung Krakatau ini yaitu akibat material yang keluar dari perut gunung. Catatan menyebutkan bahwa saat ini ketinggian Anak G Krakatau mencapai sekitar 305 meter dan akan terus bertambah. Setiap kali erupsi akan menambah pertumbuhan volume gunung. Dan juga akibat letusan anak Krakatau ini material yang terlontar membentuk tubuh gunung dn kini disebut dengan pulau anak Krakatau dengan diameter hampir 2 kilometer dan tinggi 305 meter. Sementara itu untuk Gunung Krakatau sendiri sebelumnya memiliki tinggi mencapai 813 meter dari permukaan laut. Bukan tidak mungkin ketinggian anak Krakatau nanti dapat melebihi induknya.
Jabad
Jabad Orang biasa dengan cita-cita tidak biasa, yang mencitai dan menghargai sejarah bangsanya.