Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Ajaran Dalam Serat Wulang Reh Dari Leluhur Orang Jawa

Serat Wulang Reh adalah serat yang isinya berupa tembang macapat karya dari Pujangga Nusantara yaitu Raja Surakarta bernama Sri Susuhunan Pakubuwana IV.

Sri Susuhunan Pakubuwana IV sendiri merupakan raja ke IV, beliau bertahta sejak tanggal 29 November 1788 sampai wafat beliau yaitu 1 Oktober 1820.

Tembang-tembang dalam naskah serat Wulang Reh ini banyak mengajarkan nilai-nilai luhur dan ajaran mulia untuk kehidupan umat manusia. Serat WUlang Reh menggunakan Bahasa jawa (Kromo Inggil), jadi memang karya sastra ini tidaklah sulit untuk dipahami maknanya, namun tetap membutuhkan pendalaman lebih untuk memahami makna sebenarnya dari pesan-pesan yang disampaikannya.

Adalah 13 tembang dalam Serat Wulang Reh yang kesemuanya mengandung ajaran nilai-nilai luhur untuk pedoman hidup. Ke-13 tembang yang ada di Wulang Reh yaitu:

1). Tembang Dhandhanggula,  2). Tembang Kinanthi, 3). Tembang Gambuh, 4). Pangkur, 5). Maskumambang, 6). Dudukwuluh, 7). Durma, 8). Wirangrong, 9). Pucung, 10). Mijil, 11). Asmaradana, 12). Sinom, 13). Girisa.

Semua tembang tersebut memuat pelajaran-pelajaran utama dalam kehidupan.

Untuk naskah Wulang Reh asli saat ini telah disimpan di Museum Radya Pustaka di Surakarta, Solo, Jawa Tengah.

Arti Wulang Reh


Penjelasan tentang kata Wulang Reh yaitu bahwa kata “Wulang” bersinonim dengan kata “pitutur” yang berarti ajaran. Sedangkan kata “Reh” sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno yang bermakna jalan, aturan, dan laku cara mencapai atau tuntutan.

Jadi disini “Wulang Reh” dapat dimaknai sebagai “ajaran untuk mencapai sesuatu”. Sedangkan kata sesuatu yng dimaksud dalm karya sastra ini adalah laku untuk menuju hidup harmoni atau sempurna.
Dan mari untuk lebih jelasnya lagi, berikut ini kami kutipkan tembang dari naskah ini yang memuat pengertian kata tersebut :

Gambar naskah asli serat Wulang Reh

"Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara"
Artinya ilmu itu bisa dipahami/dikuasai harus dengan cara, cara pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter) akan menjauhkan diri dari watak angkara.

Jika dilihat dan dipahami bderdasarkan maknar dari kutipan tembang tersebut, “laku” adalah langkah atau cara mencapai karakter mulia bukan ilmu dalam arti ilmu pengetahuan semata, seperti yang bnyak kita jumpai psaat ini. Yang mana kita dapat melihat sekarang ini lembaga pendidikan lebih memfokuskan pengkajian ilmu pengetahuan semata dan mengesampingkan ajaran moral dan budi pekerti padahal budi pekerti sangatlah penting untuk membentuk kepribadian siswa yang baik dan bijak.

Satu hal lagi terkait Wulang Reh, bahwa salah satu keistimewaan karya tersebut adalah tidak banyak menggunakan bahasa jawa arkhaik (kuno) sehingga sangat memudahkan para pembaca dalam memahami maksud an makna yang disampaikannya. Tetapi masih ada hal-hal yang perlu dicermati karena karya sastra Wulang Reh ini merupakan sinkretisme Islam-Kejawen, atau dapat dibilang tidak sepenuhnya merupakan ajaran Islam, sehingga nanti dapat menimbulkan perbedaan sudut pandang bagi pembaca yang memang berbeda ideologinya.

Dikutip dari buku “Javanese Wisdom – Berpikir dan Berjiwa Besar” karya dari Arwan Tuti Artha yang merupakan seorang sastrawan dan pemerhati budaya Jawa. Beliau mengartikan bahwa;

Wulang Reh, adalah pelajaran untuk “Reh”, dimana ‘Reh’ disini dipahami sebagai memimpin. Jadi ‘Wulang’ adalah pelajaran, dan ‘Reh’ adalah memimpin, mempunyai arti untuk memimpin.

Sri Pakubuwono IV menuliskan serat ini untuk para putra dan cucunya. Putra dan cucunya adalah kita semua para penerus negeri ini. Seperti dalam bait di tembang Girisa, bait ke 24.

Titi tamating carita, serat wewaler mring putra,
Kang yasa Sri Maharaja, Pakubuwono kaping pat,
Karsane Sri Maharaja, ing galih panendhanira,
Kang amaca kang miyarsa, yen lali muga elinga,

Artinya;
Akhir dari kitab ini, kitab pelajaran untuk para putraku,
Yang menulis adalah Sri Maharaja, Pakubuwono keempat,
Harapan dari Sri Maharaja, dari kehendak hati,
Yang membaca dan yang mendengarnya, apabila lupa maka sadarlah.

Wulang Reh adalah kekayaan yang kita punyai. Kekayaan Nusantara yang ditulis oleh seorang Pujangga yang berharap bahwa kita semua dapat mengenali diri sendiri dan berkesadaran sebagai pemimpin sejati. Pemimpin sejati menurut Wulang Reh adalah seorang yang telah berhasil memimpin dirinya sendiri menuju kepada kemerdekaan dan kebijaksanaan.

Dengan memahami isi ajaran di Wulang Reh ini, secara otomatis terjawab sudah kita akan memulai dari mana untuk membuat Indonesia Jaya, harus dimulai dari diri kita sendiri. Jadikanlah diri kita sebagai seorang pemimpin sejati. Seorang yang dapat memimpin diri kita sendiri.

Bener-luput, ala becik, lawan begja cilaka
Mapan saking badan priyangga,
Dudu saking wong liya,
Pramila den ngati-ati,
Sakeh dirgama
Singgahana den eling.

Wulang Reh, Durma-3

(Benar salah – baik buruk dan untung rugi, terletak pada diri sendiri, bukan karena orang lain, maka dari itu hati-hatilah terhadap ancaman, selalu sadar dan waspada.)

Mari kita kutip contoh lain ajaran mulia di Serat Wulang Reh yaitu di pembukaan tembang Dhandhanggula.

Pamedhare wasitaning ati, cumanthaka aniru pujangga
Dahat mudha ing batine, nanging kedah ginunggung
Datan wruh yen akeh ngesemi, ameksa angrumpaka
Basa kang kalantur, tutur kang katula-tula
Tinalaten rinuruh kalawan ririh, mrih padhanging sasmita.

Pembukaan di tembang Dhandanggula ini merupakan kunci pembuka, untuk apa Serat Wulang Reh ini ditulis.

Pamedhare wasitaning ati: “Pamedhare” adalah terbukanya atau tersingkapnya. “Wasita” adalah kata atau ajaran. “Ati” adalah hati. Jadi Pamedhare wasitaning ati adalah tersingkapnya ajaran hati. Kata hati adalah suara Kalbu, suara nurani terdalam yang merupakan bisikan yang Maha Benar. Kalbu tidak bisa bohong, yang bisa bohong adalah pikiran. Pada suatu kejadian, kalbu selalu menuntun untuk bertindak sesuai hokum alam, ia selalu meneriakkan kebenaran.

Cumanthaka aniru pujangga
Dahat mudha ing batine, nanging kedah ginunggung
Datan wruh yen akeh ngesemi, ameksa angrumpaka
Basa kang kalantur, tutur kang katula-tula

Sok berani untuk meniru seorang pujangga/ahli kitab, hal itu sangatlah bodoh sekali, tetapi karena ingin dipuja, tidak tahu kalau banyak yang menertawakan, memaksa untuk mengarang, bahasanya kacau, kata-katanya sia-sia.

Hal tersebut banyak sekali terjadi. Pada waktu Wulang Reh ini ditulis, banyak sekali orang yang “membeo”, meniru dan berpura-pura menjadi seorang pujangga/ahli kitab yang mencari muka atau pujian. Setelah acara cari ‘muka’ itu sukses, makai a akan duduk enak di pantai, akan menikmati fasilitas negara dengan leluasa. Sangat relevan sekali, zaman sekarangpun masih banyak sekali terjadi.

Tinalaten rinuruh kalawan ririh, mrih padhanging sasmita.

Telitilah dengan sabar, supaya semua tanda kehidupan menjadi jelas.

Sabar dan teliti, itulah kuncinya. Walaupun banyak yang berprofesi sebagai ‘burung beo’, berprofesi menjadi ‘pembicara’, hal yang perlu kita lakukan adalah sabar dan teliti. Jangan mudah terpengaruh oleh omongan dan hasutan orang lain, amati dan teliti sebelum mengambil kesimpulan.

Itulah sedikit ulasan tentang karya sastra dari pujangga Nusantara berupa Serat Wulang Reh. Semoga uraian yang saya share disini dapat memberikan manfaat dan tambahan pengetahuan untuk pembaca.

Jabad
Jabad Orang biasa dengan cita-cita tidak biasa, yang mencitai dan menghargai sejarah bangsanya.