Mengupas Fakta - Sejarah Kerajaan Islam Pertama Di Indonesia

JUANESIA.INFO - Ada beberapa fakta yang mungkin belum anda tahu tentang sejarah kerajaan islam pertama di Indonesia. Selama ini kita mengenal bahwa Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa, dan Kerajaan Pasai adalah yang tertua. Namun apakah benar sesuai dengan fakta yang ada?.

Selama ini banyak yng mengira bahwa Krajaan Samudra Pasai merupakan yang tertua di Indonesia, padahal sebenarnya sebelum Pasai ada kerajaan Islam di Indonesia yang lebih tua. Kerajaan Islam pertama dan tertua di Indonesia itu adalah Kerajaan Perlak.

Sejarah Kerajaan Perlak

Dalam catatan sejarah pada Naskah Hikayat Aceh mengungkapkan bahwa penyebaran Islam di bagian utara Sumatera dilakukan oleh seorang ulama Arab yg bernama Syaikh Abdullah Arif pada tahun 506 H atau 1112 M. Lalu berdirilah kesultanan Peureulak dengan sultannya yg pertama Alauddin Syah yg memerintah tahun 520–544 H atau 1161–1186 M. Sultan yg telah ditemukan makamnya adalah Sulaiman bin Abdullah yg wafat tahun 608 H atau 1211 M.

Kerajaan islam di Indonesia
Gambar ilustrsi kerajaan : dari pihak ketiga

Buku Zhufan Zhi, yg ditulis Zhao Rugua tahun 1225, mengutip catatan seorang ahli geografi, Chou Ku-fei, tahun 1178 bahwa ada negeri orang Islam yg jaraknya hanya lima hari pelayaran dari Jawa. Mungkin negeri yg dimaksudkan adalah Peureulak, sebab Chu-fan-chi menyatakan pelayaran dari Jawa ke Brunai memakan waktu 15 hari. Eksistensi negeri Peureulak ini diperkuat oleh musafir Venesia yg termasyhur, Marco Polo, satu abad kemudian. Ketika Marco Polo pulang dari Cina melalui laut pada tahun 1291, dia singgah di negeri Ferlec yg sudah memeluk agama Islam.
Kerajaan Perlak (Peureulak) merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara ini yg bernama Kasultanan Peureulak (Perlak)

Kesultanan Peureulak merupakan kerajaan Islam di Indonesia yg berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh sekarang antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292. Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yg sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak. Hasil alam dan posisinya yg strategis membuat Perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yg maju pada abad ke-8, disinggahi oleh kapal-kapal yg antara lain berasal dari Arab dan Persia. Hal ini membuat berkembangnya masyarakat Islam di daerah ini, terutama sebagai akibat perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan setempat.

Kerajaan Perlak - Perkembangan Dan Pergolakan

Dalam perjalananya, ada beberapa peristiwa penting yang perlu menjadi catatan kita bersama tentang Kasultanan Perlak ini. Selain kisah perkembangan kasultanan, ada juga pergolakan yangg terjadi di Kasultanan Perlak.

Dalam catatan sejarah disebutkan jika sultan pertama Perlak adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah, yg beraliran Syiah dan merupakan keturunan Arab dengan perempuan setempat, yg mendirikan Kesultanan Perlak pada 1 Muharram 225 H (840 M). Ia mengubah nama ibukota kerajaan dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Sultan ini bersama istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, kemudian dimakamkan di Paya Meuligo, Peureulak, Aceh Timur.

Pada masa pemerintahan sultan ketiga, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah, aliran Sunni mulai masuk ke Perlak. Setelah wafatnya sultan pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni sehingga selama dua tahun berikutnya tak ada sultan.

Kaum Syiah memenangkan perang dan pada tahun 302 H (915 M), Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah dari aliran Syiah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syiah dan Sunni yg kali ini dimenangkan oleh kaum Sunni sehingga sultan-sultan berikutnya diambil dari golongan Sunni.

Pada tahun 362 H (956 M), setelah meninggalnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan selama kurang lebih empat tahun antara Syiah dan Sunni yg diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian:
Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986 – 988)
Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986 – 1023)

Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah meninggal sewaktu Kerajaan Sriwijaya menyerang Perlak dan seluruh Perlak kembali bersatu di bawah pimpinan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat yg melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006.

Ahir Kejayaan Kasultanan Perlak

Setelah sekian lama berkembang menjadi kerajaan Islam yg makmur, ahirnya terjadilah beberapa pergolakan sampai pada titik ahir kejayaan Perlak dan bergabung ke Samudera Pasai.

Dalam perjalananya yg mana sudah banyak berganti Sultan, tepat pada masa Pemerintahan Sultan ke-17 Perlak, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (memerintah 1230 – 1267) menjalankan politik persahabatan dengan menikahkan dua orang putrinya dengan penguasa negeri tetangga Peureulak:

Putri Ratna Kamala, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah (Parameswara).

Putri Ganggang, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, Al Malik Al-Saleh.
Sultan terakhir Perlak adalah sultan ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (memerintah 1267 – 1292). Setelah ia meninggal, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah pemerintahan sultan Samudera Pasai, Sultan Muhammad Malik Al Zahir, putra Al Malik Al-Saleh.

Setalah penggabungan ini, maka berahirlah kasultanan Perlak dan Samudera Pasai menjadi Kerajaan Islam yang sangat besar dimasa itu.

Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Peureulak, dan
Berbagai sumber lainya.